dan jangan sungkan kasih kritik dan saran
Pecundang sejati
“Sabar, Yud. Di tolak cewek bukan akhir
segalanya, kok. Coba aja deketin sepuluh cewek, sekaligus. Masak iya, sih.
salah satunya nggak ada yang nerima??” hibur Damar, setengah meledek.
“Tapi, kalo emang sepuluh- sepuluhnya nolak ,
Yud. Kayaknya, lo mesti mandi kembang tujuh rupa deh. Kali kali aja ada mahluk
halus yang ngikuti lo, yang membuat aura
ganteng lo nggak keliatan.” Saut Faiz,
menambahi, sambil cekikian.
“Iyaa, kalian, tuh. Mahluk halusnya?” sungut
Yudha, emosi, sama temen- temennya. Yang bukannya menghibur, tapi malah
ngeledekin, Tentang nasibnya yang selalu kurang beruntung Soal asmara.
Damar, dan Faiz tertawa geli,
melihat Yudha sohibnya ngamuk- ngamuk. Mereka bukannya tidak solider, sama
Yudha, yang sedang dirudung duka, ditolak cewek kemarin. Tapi, berhubung Yudha,
hampir tiap sebulan sekali ditolak cewek. Lama-lama mereka jadi nggak
aneh lagi. Kalo tiap akhir bulan melihat sahabat mereka, Yudha. Murung karena
patah hati. Karena mereka yakin. Setelah lewat tiga hari, Yudha akan kembali
berisik seperti biasa atau kalo Yudha ketemu sama cewek cakep . Pasti dia
langsung semangat lagi.
Yah , itulah Yudha,
cowok dengaan tampang pas- pasan, Dompet di bawah standart. Karena
banyakan bokeknya dari pada punya duit. Tapi
soal selera, uh jangan di Tanya, hampir tiap cewek yang ditaksirnya, cewek-
cewek jet set, yang bukan hanya cantik seperti artis, tapi juga kaya. Wajar
memang, jika Yudha selalu ditolak. Faiz dan Damar, pun. Sudah sering
menasehatinya untuk lebih tau diri, kalo naksir sama cewek. Tapi dasar Yudha
yang bandel, punya kepercayaan diri super tinggi, dalam memdekati cewek- cewek incaranya.
Dan hasilnya bisa ditebak, ditolak,!***
Yudha, menumpahkan
kegalauannya dengan menuliskannya pada sebuah cerpen. Yah, satu satunya hal
positif, dari serangkaian penolakan yang dia alami adalah ide- ide baru dalam
menulis cerpen. Hanya itu satu- satunya keahlian yang bisa dia
banggakan, walaupun masih minder untuk mengirimkan hasil karyanya ke media.
Setidaknya, cerpen- cerpen Yudha, sering nongol di fan page di facebook dan
blog- blog remaja. Dan selalu mendapat komentar positif, dari pembacanya.
Seperti saat ini, cerpen hasil karyanya yang beberapa saat yang lalu dia
posting, langsung mendapat komentar positif.
“Wiih, salut deh. Cerpen-cerpennya bagus. Aku
sering baca karya- karya kamu, di fan page, Cerpen remaja. Apalagi yang
judulnya , Lagi dan lagi. Kereeen. Jadi pengen kenal sama penulisnya. Hi hi
pengalaman pribadi yaa? Salam kenal.” Yudha, tersenyum bangga, membaca
pesan gadis yang add dia. Yudha jadi teringat pada cerpennya yang berjudul Lagi
dan lagi yang mengisahkan serangkaian kisah penolakan yang dia alami. Tapi, tak
pernah lelah terus mencoba lagi. Yudha, mengintip foto profil, akun pengirim
permintaan pertemanan padanya. Hanya gambar animasi seorang gadis,dengan model
rambut poni ala jepang, yang dia lihat, Tak ada foto lain. Walaupun ragu,
akhirnya Yudha, menerima permintaan akun yang bernama, Nami selalu disini
itu. Dan ternyata, mereka sama sama online. Karena penasaran. Yudha,
nekat menyapanya lewat obrolan di facebook.
“Makasih
ya, sudah mau baca cerpenku. Jadi terharu nich. Iya pengalaman pribadi Hi hi.”
Tulis Yudha, penasaran. Menunggu cukup lama akhirnya balasan yang di tunggu-
tunggu muncul .
“Cerpennya
memang bagus kok. Terima kasih juga
sudah dikonfirmasi, pengalaman pribadi? Hi hi pantang mundur deh”
balas Nami, yang kemudian berlanjut dengan obrolan – obrolan lain tentang
cerpen dan puisi. Yudha, walaupun masih belum jadi penulis terkenal,pun.
Membagi pengalamannya menulis.
Dan mereka dengan cepat bisa langsung akrab.
Walaupun sama sama penasaran, karena keduanya tidak memasang foto asli. Yudha,
memasang foto saat dia berdiri menatap matahari yang tenggelam dari
samping sehingga wajahnya tak terlihat jelas. Yah karena Yudha minder dengan
wajahnya yang biasa nggak cakep tapi juga nggak jelek. Karena seringnya
chating, dan sama sama nyaman sama ngobrol. Akhirnya mereka sepakat untuk
ketemuan. Awalnya Yudha minta dikirimi foto Nami, tapi Nami, menolaknya biar kejutan
katanya.
“Yud, nanti
kita janjian pake baju merah yaa? Biar lebih gampang dikenali.”
“Siap deh,
jangan lupa minggu pagi, di alun alun.” balas Yudha, semangat sampek lupa
kalo sebenarnya dia tak punya baju , kaos atau apapun yang warna merah.***
Minggu pagi, Yudha sudah
bersiap sedari subuh menyiapkan penampilam seperfect mungkin. Walaupun ada satu
yang mengganjal. Setelah sepakat janjian pake yang merah- merah dan
sadar tak punya. Yudha, keliling cari pinjaman karena lagi bokek untuk beli.
Dan apesnya lagi, yang dia dapat adalah sebuah jemper merah ukuran xxl, milik
Damar.
Setelah berkeliling akhirnya
Yudha, menemukan sosok gadis memakai baju merah, sedang duduk gelisah, di kursi
beton, Yudha terus mengamati dari balik pohon, belum berani muncul karena tak
yakin dengan apa yang dia lihat. Di rasakan sebuah getaran, di saku celananya,
sebuah sms masuk dari Nami.
“Yudha,
kamu dimana? aku sudah di taman duduk di kursi beton dekatnya sarang burung
merpati”
Yudha, kaget luar biasa.
Betul-betul tak menyangka bahwa gadis yang sedari tadi dia amati, adalah Nami .
Sosok gadis cantik bak selebriti dengan rambut panjang terurai, jauh lebih
cantik dari gadis gadis yang menolak dirinya.
Kakinya bergetar, bimbang
entah kenapa rasa minder, muncul di saat yang tak tepat. Rasa yang selama ini
takdi punyai Yudha. Nami, tiba tiba menoleh kearahnya, sorot mata bening
meneduhkan itu merontokkan segalanya, Yudha, balik badan bergegas pergi. Yudha
tak peduli dan terus berlalu, otaknya tak bisa lagi berpikir jernih.
Merasa mengenali sorot mata cowok yang memakai
jemper merah kebesaran, Nami berjalan mendekati Sedang Yudha terus berjalan
pergi tak perduli gadis itu memanggil namanya, handphone-nya juga terus
bergetar. Yudha terus berlalu pergi tak berani mengangkat telpon dari Nami, minder
dengan kecantikannya.. Selesai
Oleh : ibnu sinyal

Tidak ada komentar:
Posting Komentar