Rabu, 14 Oktober 2015

pecundang sejati

cerpen ini juga pernah dimuat dimajalah hai kapan -kapannya aku lupa. so selamat membaca
dan jangan sungkan kasih kritik dan saran





Pecundang sejati
“Sabar, Yud. Di tolak cewek bukan akhir segalanya, kok. Coba aja deketin sepuluh cewek, sekaligus. Masak iya, sih. salah satunya nggak ada yang nerima??” hibur Damar, setengah meledek.
“Tapi, kalo emang sepuluh- sepuluhnya nolak , Yud. Kayaknya, lo mesti mandi kembang tujuh rupa deh. Kali kali aja ada mahluk halus yang ngikuti lo,  yang membuat aura ganteng lo  nggak keliatan.” Saut Faiz, menambahi, sambil cekikian.
“Iyaa, kalian, tuh. Mahluk halusnya?” sungut Yudha, emosi, sama temen- temennya. Yang bukannya menghibur, tapi malah ngeledekin, Tentang nasibnya yang selalu kurang beruntung Soal asmara.
Damar, dan Faiz tertawa geli, melihat Yudha sohibnya ngamuk- ngamuk. Mereka bukannya tidak solider, sama Yudha, yang sedang dirudung duka, ditolak cewek kemarin. Tapi, berhubung Yudha, hampir  tiap sebulan sekali ditolak cewek. Lama-lama mereka jadi nggak aneh lagi. Kalo tiap akhir bulan melihat sahabat mereka, Yudha. Murung karena patah hati. Karena mereka yakin. Setelah lewat tiga hari, Yudha akan kembali berisik seperti biasa atau kalo Yudha ketemu sama cewek cakep . Pasti dia langsung semangat lagi.
Yah , itulah Yudha, cowok  dengaan tampang pas- pasan, Dompet di bawah  standart. Karena banyakan bokeknya  dari pada punya duit. Tapi soal selera, uh jangan di Tanya, hampir tiap cewek yang ditaksirnya, cewek- cewek jet set, yang bukan hanya cantik seperti artis, tapi juga kaya. Wajar memang, jika Yudha selalu ditolak. Faiz dan Damar, pun. Sudah sering menasehatinya untuk lebih tau diri, kalo naksir sama cewek. Tapi dasar Yudha yang bandel, punya kepercayaan diri super tinggi, dalam memdekati cewek- cewek incaranya. Dan hasilnya bisa ditebak, ditolak,!***
Yudha, menumpahkan kegalauannya dengan menuliskannya pada sebuah cerpen. Yah, satu satunya hal positif, dari serangkaian penolakan yang dia alami adalah ide- ide baru dalam menulis cerpen.  Hanya itu satu- satunya  keahlian yang bisa dia banggakan, walaupun masih minder untuk mengirimkan hasil karyanya ke media. Setidaknya, cerpen- cerpen Yudha, sering nongol di fan page di facebook dan blog- blog remaja. Dan selalu mendapat komentar positif, dari pembacanya. Seperti saat ini, cerpen hasil karyanya yang beberapa saat yang lalu dia posting, langsung mendapat komentar positif.
 Wiih, salut deh. Cerpen-cerpennya bagus. Aku sering baca karya- karya kamu, di fan page, Cerpen remaja. Apalagi yang judulnya , Lagi dan lagi. Kereeen. Jadi pengen kenal sama penulisnya. Hi hi pengalaman pribadi yaa? Salam kenal.” Yudha, tersenyum bangga, membaca pesan gadis yang add dia. Yudha jadi teringat pada cerpennya yang berjudul Lagi dan lagi yang mengisahkan serangkaian kisah penolakan yang dia alami. Tapi, tak pernah lelah terus mencoba lagi. Yudha, mengintip foto profil, akun pengirim permintaan pertemanan padanya. Hanya gambar animasi seorang gadis,dengan model rambut poni ala jepang, yang dia lihat, Tak ada foto lain. Walaupun ragu, akhirnya Yudha, menerima permintaan akun yang bernama,  Nami selalu disini itu. Dan ternyata, mereka sama  sama online. Karena penasaran. Yudha, nekat menyapanya lewat obrolan di facebook.
Makasih ya, sudah mau baca cerpenku. Jadi terharu nich. Iya pengalaman pribadi Hi hi.” Tulis Yudha, penasaran. Menunggu cukup lama akhirnya balasan yang di tunggu- tunggu muncul .
Cerpennya memang bagus kok.  Terima kasih juga sudah dikonfirmasi, pengalaman pribadi? Hi hi pantang mundur deh”  balas Nami, yang kemudian berlanjut dengan obrolan – obrolan lain tentang  cerpen dan puisi. Yudha, walaupun masih belum jadi penulis terkenal,pun. Membagi pengalamannya menulis.
Dan mereka dengan cepat bisa langsung akrab. Walaupun sama sama penasaran, karena keduanya tidak memasang foto asli. Yudha, memasang foto saat  dia berdiri menatap matahari yang tenggelam dari samping sehingga wajahnya tak terlihat jelas. Yah karena Yudha minder dengan wajahnya yang biasa nggak cakep tapi juga nggak jelek. Karena seringnya chating, dan sama sama nyaman sama ngobrol. Akhirnya mereka sepakat untuk ketemuan. Awalnya Yudha minta dikirimi foto Nami, tapi Nami, menolaknya biar kejutan katanya.
Yud, nanti kita janjian pake baju merah yaa? Biar lebih gampang dikenali.”
Siap deh, jangan lupa minggu pagi, di alun alun.” balas Yudha, semangat sampek lupa kalo sebenarnya dia tak punya baju , kaos atau apapun yang warna merah.***
Minggu pagi, Yudha sudah bersiap sedari subuh menyiapkan penampilam seperfect mungkin. Walaupun ada satu yang mengganjal. Setelah sepakat janjian pake  yang merah- merah dan sadar  tak punya. Yudha, keliling cari pinjaman karena lagi bokek untuk beli. Dan apesnya lagi, yang dia dapat adalah sebuah jemper merah ukuran xxl, milik Damar.
Setelah berkeliling akhirnya Yudha, menemukan sosok gadis memakai baju merah, sedang duduk gelisah, di kursi beton, Yudha terus mengamati dari balik pohon, belum berani muncul karena tak yakin dengan apa yang dia lihat. Di rasakan sebuah getaran, di saku celananya, sebuah sms masuk dari Nami.
Yudha, kamu dimana? aku sudah di taman duduk di kursi beton dekatnya sarang burung merpati”
Yudha, kaget luar biasa. Betul-betul tak menyangka bahwa gadis yang sedari tadi dia amati, adalah Nami . Sosok gadis cantik bak selebriti dengan rambut panjang terurai, jauh lebih cantik dari gadis gadis yang menolak dirinya.
Kakinya bergetar, bimbang entah kenapa rasa minder, muncul di saat yang tak tepat. Rasa yang selama ini takdi punyai Yudha. Nami, tiba tiba menoleh kearahnya, sorot mata bening meneduhkan itu merontokkan segalanya, Yudha, balik badan bergegas pergi. Yudha tak peduli dan terus berlalu, otaknya tak bisa lagi berpikir jernih.
 Merasa mengenali sorot mata cowok yang memakai jemper merah kebesaran, Nami berjalan mendekati Sedang Yudha terus berjalan pergi tak perduli gadis itu memanggil namanya, handphone-nya juga terus bergetar. Yudha terus berlalu pergi tak berani mengangkat telpon dari Nami, minder dengan kecantikannya.. Selesai
Oleh : ibnu sinyal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar